Tuesday, January 10, 2017

A. Pengertian manajemen pendidikan
     Secara etimologis, kata “pendidikan” berasal dari kata dasar didik, yang mendapat imbuhan awal dan akhiran pe-an. Berubah menjadi kata kerja mendidik, yang berarti membantu anak untuk menguasai aneka pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang diwarisi dari keluarga dan masyarakatnya. Pada zaman Yunani, pendidikan diistilahkan dengan kata “paedagogiek” yang artinya ilmu menuntun anak, sementara “paedagogia” artinya pergaulan dengan anak-anak, sedangkan orang yang menuntun disebut dengan nama “paedagog”. Kamus Oxford Learner's Pocket Dictionary mencatat, Pendidikan diartikan sebagai pelatihan dan pembelajaran (Arif Rohman, 2009:5). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 352) pendidikan ialah suatu perbuatan atau cara memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

     Kemudian Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat (1 ) mendefinisikan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

     Penjelasan lain menyatakan bahwa mendidik merupakan proses membudayakan manusia (Made Pidarta, 2009:2). Manusia merupakan sebuah diri dengan kemampuan dasar berpikir dan potensi dasar mendalami dunia rasa, maka melalui proses pendidikan diharapkan bisa menciptakan olah pemikiran yang terus hidup berkembang sehingga menemukan aplikasi ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalan hidup ini. Inti atau Esensi Pendidikan itu sebenarnya merupakan proses pewarisan ide-ide ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, 201 0:9). Manusia memiliki bakat agar didayagunakan dan dikembangkan melalui proses pendidikan ini, sehingga bakat tersebut bermanfaat bagi dirinya dan masyarakatnya (H.A.R Tilaar dan Riant Nugroho, 2008:43).Pendidikan dan manusia adalah sebuah kesatuan yang takkan terpisahkan. Selama ada manusia maka pendidikan tidak akan pernah terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa, maka mereka akan mendidik anak-anaknya juga. Begitu seterusnya (Made Pidarta, 2009:1 ).

    Sihombing, dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidikan (Eti Rochaety,dkk, 201 0:7), menguraikan pokok-pokok penting dalam pendidikan sebagai berikut :
1 . Pendidikan adalah proses pembelajaran
2. Pendidikan adalah proses sosial
3. Pendidikan adalah proses mamanusiakan manusianya
4. Pendidikan berusaha mengubah atau mengembangkan kemampuan, sikap dan perilaku positif
5. Pendidikan merupakan perbuatan atau kegiatan sadar
6. Pendidikan memiliki dampak pada lingkungan
7. Pendidikan berkaitan dengan cara mendidik
8. Pendidikan tidak berfokus pada pendidikan formal.

    Manajemen dalam kerangka kontemplasi nasional pendidikan dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 ayat (1 ), maka manajemen pendidikan diupayakan sebagai payung administrasi yang manaungi seluruh kesadaran terencana mewujudkan situasi pendidikan secara aktif untuk meningkatkan pengembangan diri sehingga memiliki kekuatan spiritual dan karakter bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

  Perlunya aplikasi manajemen pendidikan, Urgensi aplikasi manajemen pendidikan ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No.1 7 Tahun 201 0 BAB II Pasal 3 yang menyebutkan bahwa tujuan pengelolaan pendidikan ialah untuk menjamin :
a. Akses masyarakat atas pelayanan pendidikan yang mencukupi, merata, dan terjangkau;
b. Mutu dan daya saing pendidikan relevansinya dengan kebutuhan kondisi masyarakat; dan
c. Efektivitas, efisiensi, dan serta dan/atau akuntabilitas pengelolaan pendidikan.

   Pengelolaan pendidikan atau manajemen pendidikan di semua tingkat, secara nasional, ditujukan agar layanan pendidikan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia dengan proses bermutu dan berdaya saing tinggi, tetap berorientasi kebutuhan lokal.

    Adapun Di tengah masyarakat yang selalu bergerak ke arah penyempurnaan diri dan kompleksitas kebutuhan pasar pendidikan, serta realitas perkembangan teknologi dan gaya hidup yang terus mengalir, maka menimbulkan kejadian di luar rencana manajemen. Di tingkat makro, ada tiga perubahan besar terkini yang sangat memberi pengaruh besar kepada kehidupan manusia, yaitu proses globalisasi, demokratisasi, dan kemajuan teknologi informasi (H.A.R.Tilaar, 201 2:460). Keseluruhan perubahan tersebut membentuk pilar pendidikan yang globalis dan mendunia. Seluruh sivitas pendidikan termasuk peserta didik menjadi bagian dari warga negara global, yang satu sama lain bisa berhubungan tanpa ada sekat apapun. Demokratisasi mengarahkan seluruh warga masyarakat berperan aktiv dalam manajemen persekolahan. Kondisi ini menuntut manajerial sekolah memihak pada kebutuhan dan kepentingan lokal semantara pada saat yang sama menjadi informasi bagi dunia pendidikan secara global.

    Tantangan utama yang selalu ada dan harus disadari oleh seluruh pelaku manajerial kependidikan ialah perubahan. Apa yang abadi di dunia ini ialah perubahan. Selera masyarakat terhadap pendidikan juga mengalami perubahan. Perubahan-perubahan tersebut sebuah keniscayaan dan tidak dapat dihindari. Muhaimin, dkk, (201 0:69) menjelaskan, beberapa perubahan tersebut misalnya perubahan upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), perubahan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), perubahan Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut selalu akan terjadi dan ini harus diantisipasi oleh pihak manajemen kependidikanan